Tangerang, Ceklisdua.net – Di tengah kesederhanaan sebuah kobong berdinding anyaman bambu, sekelompok santri tetap setia menjaga tradisi lama: mengaji sambil ngopi. Suasana hangat itu hadir dalam kegiatan rutin di Kobong Iqro’ Al Bantari yang berlokasi di RT 04/01, Kelurahan Kedaung Wetan, Tangerang.
Duduk melingkar di bangku plastik, para santri membuka Iqro’ dan kitab dengan penerangan seadanya. Di sela-sela kajian, gelas kopi menjadi teman diskusi, mencairkan suasana tanpa mengurangi kekhidmatan. Tradisi ini dikenal dengan sebutan ngaji ngopi, kebiasaan yang telah lama hidup di lingkungan pesantren tradisional.
“Ngaji bukan hanya soal membaca, tapi bagaimana kebersamaan itu dijaga. Di sini kami belajar adab, saling menghormati, dan tetap rendah hati,” ujar salah satu santri yang enggan disebutkan namanya, Rabu malam, 21 Januari 2026.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan juga sarana memperkuat ikatan sosial antarsantri. Dalam suasana santai namun sarat makna, diskusi ringan kerap mengiringi kajian, menjadikan kobong sebagai ruang belajar yang hidup.
Di dinding kobong, terpajang foto para ulama dan tokoh agama sebagai simbol mata rantai keilmuan yang terus dijaga. Meski jauh dari kesan modern, nilai-nilai pesantren tetap tumbuh kuat di tengah keterbatasan fasilitas.
Di saat kehidupan modern semakin individualistik, para santri ini memilih bertahan pada tradisi tatap muka, duduk bersisian, dan menimba ilmu secara langsung. Kobong bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang pembentukan karakter.
Ngaji ngopi di Kobong Iqro’ Al Bantari menjadi potret kecil kehidupan santri kolot di Tangerang—sederhana, hangat, dan penuh makna—sekaligus pengingat bahwa nilai kebersamaan dan keilmuan tetap relevan di tengah arus perubahan zaman.
Rapudin










