Opini

Das Sein Das Sollen, GMNI: Autokritik Pada Dies Natalis Ke-72

27
×

Das Sein Das Sollen, GMNI: Autokritik Pada Dies Natalis Ke-72

Sebarkan artikel ini

CeklisDua.net – Perjalanan panjang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang kini berusia 72 tahun tentu menorehkan banyak sekali catatan sejarah, kita ketahui bersama bahwa GMNI lahir dari semangat persatuan untuk turut mewujudkan cita-cita kemerdekaan dan mencetak kader bangsa dengan basis intelektual. Dalam perjalanan panjang itu pula, pasang surut gerakan selalu menjadi tantangan pada setiap periode zaman.

Dies Natalis GMNI tidak hanya kita sambut dengan seremoni perayaan, tetapi juga sebagai momentum perenungan mendalam atas distorsi organisasi yang mengantarkan pada periode kelam.

_Das sollen_ dalam organisasi disebut sebagai kaidah umum atau pedoman yang menerangkan kondisi yang diharapkan atau yang seharusnya. Sedangkan _Das sein_ merupakan keadaan yang nyata, kondisi kontra dengan apa yang menjadi das sollen organisasi.

“Bahwa proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia yang hakiki seperti yang dicita-citakan para founding father masih belum tercapai, sehingga revolusi belum selesai”.

Ungkapan yang seharusnya menjadi renungan bagi kita semua sebagai insan ideologis GMNI, umumnya kiri. Untuk mengenal kembali lebih dalam apa itu cita-cita kemerdekaan? Seperti apa bentuk revolusinya? Patutlah kemudian diafiliasi kembali, apa sifat dan tujuan organisasi ini? Bagaimana usaha untuk mewujudkannya?

Independensi, mendidik kader bangsa dalam mewujudkan masyarakat sosialis Indonesia, usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan azas perjuangan Marhaenisme. Apakah 3 nilai ini masih menjadi landasan yang diamalkan oleh kaum marhaenis?

Realitiet organisasi GMNI jika diadopsi menjadi rumusan masalah sekiranya demikian:
1. Masihkah layak GMNI disebut independen?
2. Apakah konteks mendidik di dalamnya berorientasi pada pembebasan atau sekadar relasi kekuasaan?
3. Apakah usaha-usaha untuk mencapai tujuan GMNI betul-betul dilaksanakan secara tidak bertentangan dengan azas perjuangan?

 

KONTRA REVOLUSI

Dependen, penyelewengan dan kemunduran. Secara eksplisit mungkin menjadi 3 frasa yang tepat untuk menggambarkan 3 hal tersebut jika ditarik berdasarkan realitiet.

Independensi menjadi ketergantungan entah kepada pemerintah, partai politik, atau entitas kekuatan dan kekuasaan lain. Alumni tidak masuk dalam kategori ini sebab salah satu fungsinya adalah mengayomi, baca: seharusnya.

Mendidik menjadi sekedar memerintah, “perintah pimpinan, arahan abang” yang kerap menjadi kepatuhan buta. Jika kontra dianggap tidak beretika, padahal tidak ada kesinambungan revolusi di dalamnya.

Sulit sekali mengatakan bahwa usaha untuk mencapai tujuan tidak bertentangan dengan azas perjuangan, surat aksi saja terkadang hanya menjadi atensi perhatian padahal tidak benar-benar dilaksanakan. Perpecahan, kekonservatifan pemikiran, kader yang wajib patuh dan melaksanakan perintah abang, menjilat penyokong dan kekuasaan, tentu tidak dikehendaki oleh azas perjuangan.

Pengabaian terhadap norma organisasi bukan lagi hal yang tabu, sebagian besar dari kita justru menormalisasi itu. Salah satu dampak dari kompleksitas permasalahan ini adalah terjadinya krisis identitas kader, regenerasi yang gagap ideologi dan penuruan yang cukup signifikan dalam aspek kaderisasi secara kuantitas bahkan mungkin kualitas.

Kondisi hari ini bukanlah suatu bentuk dinamika, saya sangat menentang _pledoi_ kaleng semacam itu. Dinamika menurut Bung Karno adalah proses perubahan yang terus-menerus, revolusioner, dan kuat untuk beradaptasi dengan keadaan zaman. Bahkan sering kali ditandai dengan semangat Vivere Pericoloso.

 

KONKLUSI

Tidaklah berlebihan jika kondisi organisasi saat ini bukan kita sebut sebagai dinamika tetapi kemunduran, tidak ada semangat revolusioner disitu atau kesinambungan revolusi dalam gerakan.

Variabel di dalam sini bukan tentang junior, apalagi senior, atau elemen lain. Tetapi tentang seluruh lapisan GMNI, sebab GMNI tidak akan mampu menyentuh cita-cita besar revolusi sebelum melakukan perbaikan besar-besaran organisasi.

Sekali lagi, Bung Karno pernah mengungkapkan “Indonesia merdeka dan perbaikan masyarakat Indonesia hanyalah bisa tercapai kalau kita membongkar penyakit Indonesia itu dalam akar-akarnya dan dalam pokok-pokoknya”.

Sebelum lebih jauh, yang kita butuhkan saat ini adalah “Tujuan GMNI dan perbaikan insan ideologisnya hanyalah bisa tercapai kalau kita membongkar penyakit GMNI itu dalam akar-akarnya dan dalam pokok-pokoknya”.

Untuk itu, _das sein das sollen_ di tubuh GMNI saat ini patut menjadi latar belakang dalam menumbuhkan kesadaran kolektif guna melakukan perbaikan secara besar-besaran dengan semangat Vivere Vericoloso.

DIRGAHAYU KE-72
GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA

 

Penulis opini : Teguh Maulana

Aktivis GMNI Banten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *